Penulis

Oleh Ben Mcleod, Surveyor, Penerbangan

Selama lima tahun terakhir, sektor penerbangan telah melewati salah satu periode paling bergejolak dalam sejarahnya. Pandemi COVID-19 menghentikan operasional global hampir dalam semalam, membuat 62% armada pesawat di dunia tidak beroperasi, serta menyebabkan anjloknya permintaan akan layanan pemeliharaan, perbaikan, dan perombakan (MRO). Ketidakaktifan armada, penundaan pemeliharaan, kekurangan tenaga kerja, dan gangguan rantai pasokan telah menimbulkan tumpukan masalah yang dampaknya masih terasa di seluruh industri hingga saat ini.

Namun, dari gangguan ini justru muncul salah satu upaya pemulihan terkoordinasi terbesar dalam sejarah penerbangan modern, di mana produsen dan organisasi MRO mempercepat investasi, inovasi, serta perluasan kapasitas untuk memenuhi lonjakan permintaan.

Berikut ini adalah gambaran strategis mengenai bagaimana sektor ini sedang berkembang pesat—serta mengapa masih ada tantangan yang harus dihadapi.

Lonjakan Pasca-Pandemi: Permintaan Melampaui Pasokan

Seiring dengan kembalinya pesawat ke layanan pada tahun 2022–2023, permintaan akan layanan pemeliharaan melonjak. Akibatnya, terjadi penumpukan permintaan layanan pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul (MRO) yang berlangsung selama beberapa tahun, yang diperparah oleh kenaikan harga bahan baku, kelangkaan suku cadang, dan kekurangan tenaga insinyur. Jalur produksi di produsen peralatan asli (OEM) besar pun menghadapi tekanan serupa:

  • Jumlah pesanan pesawat yang belum terpenuhi kini melebihi 17.000 unit, yang setara dengan 14 tahun produksi berdasarkan tingkat produksi saat ini.
  • Kekurangan pasokan pesawat secara global sebanyak 5.400 unit memaksa maskapai penerbangan untuk memperpanjang masa operasional armada pesawat tua mereka, sehingga secara signifikan meningkatkan kompleksitas dan biaya pemeliharaan.
  • Waktu pemeliharaan mesin telah meningkat sebesar 30% untuk mesin model lama dan lebih dari 150% untuk platform baru seperti Leading Edge Aviation Propulsion (LEAP) dan Geared Turbofan (GTF).

Lonjakan permintaan ini berarti kapasitas MRO harus meningkat lebih dari 30% pada tahun 2035 hanya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Di Amerika Utara saja, diperkirakan akan terjadi kekurangan 48.000 tenaga kerja pemeliharaan pada tahun 2027.

Produsen Meningkatkan Produksi: Mengatasi Hambatan Produksi

Para produsen tengah dilanda serangkaian masalah yang saling bertautan: kekurangan tenaga kerja, gangguan rantai pasokan, dan masalah kualitas produksi. Baik Airbus maupun Boeing beroperasi jauh di bawah kapasitas puncak, dengan tingkat pengiriman yang tertinggal 30% dari rekor tertinggi pada tahun 2018.

Kendala utama meliputi:

1. Tenaga Kerja & Keterampilan

Sebagian besar tenaga kerja di bidang teknik telah pensiun atau meninggalkan sektor ini selama pandemi. Proses perekrutan ulang dan pelatihan masih berjalan lambat, terutama untuk posisi-posisi khusus di bidang produksi dan manufaktur.

2. Kerentanan Rantai Pasokan

Kekurangan semikonduktor, penundaan proses pengecoran, hambatan dalam pasokan avionik, serta dampak jangka panjang dari sanksi terhadap titanium Rusia terus menghambat produksi. Pemulihan pasokan bahan-bahan seperti titanium kelas dirgantara mungkin memerlukan waktu 2–3 tahun untuk kembali normal.

3. Tekanan dalam Jaminan Kualitas

Penundaan produksi yang terjadi belakangan ini—terutama pada Boeing 737 MAX dan 787—telah memicu pengawasan yang lebih ketat dari pihak regulator, yang mengakibatkan perlambatan pengiriman namun meningkatkan ketahanan jangka panjang.

Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, produsen peralatan asli (OEM) melakukan hal-hal berikut:

  • Memperluas jaringan pemasok dan melakukan lebih banyak audit
  • Merekrut pemasok regional untuk mengurangi ketergantungan logistik
  • Melakukan investasi besar-besaran dalam bidang otomatisasi, simulasi, dan alat inspeksi digital
  • Meningkatkan kerja sama dengan jaringan MRO, berbagi data perbaikan, dan memberikan izin kepada lebih banyak pusat layanan pihak ketiga

Perluasan Kapasitas MRO Secara Global

Di tengah pemulihan sektor manufaktur, sektor MRO pun tengah mengalami transformasi tersendiri. Permintaan akan perbaikan bodi pesawat, komponen, dan terutama mesin sedang melonjak seiring dengan upaya maskapai penerbangan yang mengoperasikan armada pesawat tua untuk mengatasi keterlambatan pengiriman pesawat baru.

Investasi Global Berskala Besar Sedang Berlangsung

  • General Electric (GE): Telah menginvestasikan lebih dari $1 miliar untuk kapasitas perbaikan mesin baru
  • Singapore Airlines Engineering: Proyek perluasan senilai $242 juta bersama Rolls-Royce, yang hampir menggandakan kapasitas mesin
  • FL Technics: Membuka fasilitas MRO perawatan berat independen pertama di Karibia dengan rencana untuk memperluas kapasitas menjadi 20 slot
  • HAECO Xiamen: Hanggar baru berkapasitas 18 pesawat, fasilitas dengan bentang tunggal terbesar di dunia
  • Ryanair: Meningkatkan kapasitas pemeliharaan internal sebesar 130% melalui proyek-proyek perluasan di berbagai fasilitas. Ditambahkan 21 bengkel pemeliharaan pesawat baru, serta dua fasilitas perbaikan mesin baru yang akan beroperasi pada tahun 2029

Perluasan ini sangat penting untuk meredakan tekanan yang semakin meningkat terhadap waktu penyelesaian dan memulihkan ketahanan pemeliharaan global.

Berinovasi untuk Keluar dari Krisis: Memperbaiki vs Mengganti

Dengan harga suku cadang yang naik hingga 20% secara tahunan, ketersediaan suku cadang dari pabrikan (OEM) yang terbatas, serta biaya logistik yang meningkat, industri ini secara strategis beralih ke solusi yang berfokus pada perbaikan:

1. Perbaikan dan Perbaikan Tingkat Lanjut

Collins, Honeywell, dan perusahaan lain mulai menerapkan pemesinan adaptif, otomatisasi, serta teknologi inspeksi canggih, sehingga berhasil mengurangi tingkat limbah hingga 50% dan menghemat biaya perbaikan hingga 80%.

2. Persetujuan Produsen Komponen (PMA) & Perluasan Bagian 21

  • Komponen PMA yang disetujui oleh Administrasi Penerbangan Federal (FAA) menawarkan penghematan sebesar 30–40%
  • Bagian 21 departemen teknik sedang mengembangkan metode perbaikan khusus yang tidak bergantung pada manual pabrikan
  • Manufaktur aditif (pencetakan 3D) mempercepat ketersediaan komponen

3. Pertumbuhan Layanan Perbaikan di Lapangan

Tim lapangan OEM (Pratt & Whitney, GE, MTU) sedang memperluas jangkauan layanannya untuk menghindari kunjungan ke bengkel yang tidak perlu, sehingga dapat mengurangi waktu henti dan konsumsi bahan.

4. Pertumbuhan Ekonomi Sirkular

Hingga 85% dari rangka pesawat berbahan aluminium dapat didaur ulang, dan teknologi daur ulang bahan komposit berkembang pesat. Pasar bahan bekas yang masih layak pakai (USM) diproyeksikan akan mencapai nilai hingga $10 miliar pada tahun 2030, dengan spesialis pembongkaran seperti Ecube dan Tarmac Aerospace yang memproses ratusan pesawat setiap tahunnya.

Transformasi Digital Mempercepat Perluasan Operasional

Digitalisasi, yang dulunya berjalan lambat di sektor pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul (MRO) penerbangan, telah melonjak pesat pasca-COVID, didorong oleh tekanan biaya dan kebutuhan akan efisiensi:

  • Inspeksi yang didukung kecerdasan buatan (AI), termasuk analisis prediktif digital twin, analisis borescope yang ditingkatkan, dan pengembangan robotika
  • Perencanaan otomatis dan pendistribusian tugas melalui integrasi sistem perencanaan sumber daya perusahaan (ERP) dan sistem eksekusi manufaktur (MES)
  • Ekosistem pemeliharaan real-time yang menghubungkan AMOS, AVIATAR, dan flydocs
  • Investasi dalam inspeksi menggunakan drone untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi
  • Asisten virtual yang membantu para insinyur dalam mendiagnosis masalah secara instan

Teknologi-teknologi ini berhasil mengurangi hambatan, meningkatkan akurasi perkiraan, dan meningkatkan kapasitas produksi tanpa perlu menambah jumlah tenaga kerja secara signifikan.

Pemulihan Tenaga Kerja: Membangun Kembali Jalur Talenta

Industri ini menghadapi krisis demografis: usia rata-rata insinyur pesawat bersertifikat (LAE) adalah 54 tahun, dengan 20% di antaranya akan pensiun dalam lima tahun ke depan. Sebagai tanggapan, organisasi-organisasi penerbangan melakukan investasi besar-besaran:

  • Jumlah peserta program magang yang memecahkan rekor di seluruh dunia
  • Perubahan peraturan untuk memfasilitasi pelatihan jalur cepat, yang menggabungkan jalur akademis dan praktis guna mengurangi kesenjangan keterampilan di industri
  • Peningkatan perekrutan dari sektor non-penerbangan dan angkatan bersenjata
  • Program peningkatan keterampilan dalam bidang diagnostik berbasis kecerdasan buatan, alat digital, dan literasi data

Transformasi tenaga kerja ini sangat penting untuk mendukung peningkatan produksi dan perluasan layanan pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul (MRO).

Memandang ke Depan: Pemulihan dengan Penuh Kewaspadaan

Sektor penerbangan kini lebih optimis daripada sebelumnya sejak pandemi melanda. Sekitar 70% perusahaan dirgantara kini merasa siap menghadapi peningkatan produksi dan pemeliharaan—tingkat optimisme ini dua kali lipat dibandingkan tahun 2024.

Namun, masih ada beberapa tantangan utama:

  • Kesenjangan kapasitas dalam rantai pasokan OEM dan MRO
  • Kekurangan tenaga kerja yang terus-menerus
  • Waktu tunggu yang lama untuk mesin dan suku cadang
  • Kendala keuangan yang dihadapi operator akibat melonjaknya biaya
  • Risiko operasional akibat tenaga kerja yang lebih muda dan kurang berpengalaman

Kesimpulan

COVID-19 telah menimbulkan gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh sektor penerbangan, namun hal itu juga memaksa terjadinya transformasi. Produsen dan penyedia layanan pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul (MRO) kini bangkit dengan lebih kuat—lebih digital, lebih kolaboratif, dan lebih inovatif.

Lima tahun ke depan akan menentukan keberhasilan transformasi ini. Pertumbuhan kapasitas, ketahanan rantai pasokan, adopsi teknologi digital, dan pengembangan tenaga kerja akan menentukan seberapa efektif industri ini dapat memenuhi permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sektor penerbangan sedang pulih—secara bertahap, strategis, dan dengan momentum yang semakin kuat.